Selamat Datang ...

Cerita Gopek menyuguhkan fiksi mini (flash fiction) karya Mardiana Kappara yang mengandung tidak lebih dari 500 kata pada tiap cerita.


Rabu, 04 Oktober 2017

Sarjana Pulang Kampung

Mak Menah yang tinggal di Desa Lambur Dalam sudah berumur lebih dari 50 tahun. Anak satu-satunya masih berusia 7 tahun. Karunia Allah di usianya yang menginjak kepala 4, dia baru dikaruniai anak setelah menikah bertahun-tahun. Ditinggal suami pertama dan nyaris suami kedua.
"Boy sudah masuk SD, aku ditegur ibu gurunya, Boy belum bisa baca tulis. Kalau mau naik kelas Boy harus bisa baca tulis. Di sekolah katanya ibu guru memberikan les tambahan. Tapi di rumah Boy juga harus belajar baca tulis." Mak Menah mendatangi warungku pagi itu dengan tergopoh-gopoh. Aku sarjana Pertanian dari kota yang baru diwisuda dua bulan lalu. Kembali ke desa, aku berwirausaha. Walaupun bapak ibu menginginkan aku jadi pegawai negeri. Tetapi aku ingin menjadi petani saja, bukankah aku disekolahkan di jurusan pertanian, tentunya aku harus jadi petani, bukan pegawai negeri, tapi Bapak Ibu sibuk menyuruhku ikut tes CPNS.
"Sini biar aku yang mengajar Boy. Kalau pulang sekolah, suruh Boy main ke warung."
"Tapi Boy malu katanya. Katanya lagi, biar Mak saja yang belajar sama Bang Rohim, nanti ajarkan aku setelah Bang Rohim bisa mengajarkan Mak baca tulis."
Aku melongo. Pikirku kurang ajar betul Boy bersikap begitu pada Mak Menah. Tapi Mak Menah sekali lagi meyakinkanku.
"Ajarkan saja Mak, Him. Biar emak bisa mengajarkan Boy. Kasihan pula dia kalo pulang sekolah harus belajar lagi kemari. Biarlah siang dia bermain bersama teman-temannya, nanti malam biar emak yang mengajarkan dia sehabis emak belajar denganmu Him. Lagipula emak juga tidak punya banyak kerja, biarlah emak membantu warung jualan pupukmu, tak perlu engkau bayar emak ni, cukup kau ajarkan emak baca tulis sampai pintar."
Ya, pikirku tidak ada salahnya. Toh, tawaran yang saling menguntungkan. Aku juga butuh pegawai, syukur-syukur pegawai yang gratisan. Kadang aku perlu ke kota untuk membeli pupuk atau racun tanaman.
"Baiklah, Mak."
"Kapan bisa emak mulai belajar?"
"Besok."
"Kenapa tidak hari ini saja?"
Aku mengangguk ragu-ragu, "I-Iya, bisa.."
Mak Menah langsung menarik salah satu bangku di depanku. mengeluarkan sebuah buku yang digulung-gulungnya dan diselipkannya dibalik baju, tidak lupa sebatang pensil dan sebuah penghapus. Mak Menah tersenyum sangat lebar padaku.
Aku pun ikut tersenyum. Mulailah hari itu aku mengajarkan Mak Menah baca tulis.
Sudah tiga hari berturut-turut Mak Menah rutin datang ke warung. Biasanya sendiri, tetapi kali ini tidak. Dia bersama dengan Mak Timah.
"Maaf, Him. Kemarin emak cerita sama Timah, kalau engkau mengajarkan aku baca tulis. Walaupun aku baru tahu A, B, sampai C. Tapi rasanya aku bangga betul menyadarinya. Mendengar itu Timah bertanya, mungkinkah engkau menambah pegawai dengan upah diajarkan baca tulis, Him?"
Aku hanya mengangguk. Semenjak hari itu, aku punya dua pegawai sukarela.
Seminggu berjalan, Mak Menah dan Mak Timah membawa tiga orang perempuan paruh baya lain. Aku kenal mereka, Mak Sargawi, Mak Ucup, dan Mak Ogik. Dengan malu-malu mereka mendaftarkan diri menjadi pegawai di warungku dengan upah diajarkan baca tulis selayaknya Mak Menah dan Mak Timah. Aku tidak bisa menolak, karena pikirku tidak ada ruginya untukku. Bahkan sekarang aku bisa sedikit santai, karena banyak tenaga yang membantuku di warung.
Lama kelamaan, warungku makin ramai didatangi perempuan paruh baya yang mau belajar baca tulis. Sehingga kelas baca tulis pun berpindah ke halaman warung.
Tanpa sengaja Pak Kades melewati warung pertanianku, dia mampir dan menyapaku. "Wah, sekarang buka privat baca tulis juga Nak Rohim?"
Aku tertawa. "Tidak Pak Kades. Ini kelas gratis. Siapapun boleh belajar baca tulis di sini."
Pak Kades menepuk bahuku. "Bagus Nak Rohim."
Besoknya, tidak lagi ibu-ibu yang mendatangi warungku, tetapi bapak-bapak juga. Mereka ingin ikut belajar membaca dan menulis sesuai pengarahan pak Kades. Walaupun tidak tiap hari, karena mereka harus berladang, tetapi mereka tetap ingin belajar.
Tanpa kusadari, berjalannya waktu, warungku semakin dipadati pengunjung. Dari yang ingin belajar baca tulis hingga berbelanja ke warung. kegiatan belajar pun makin meningkat, tidak hanya baca tulis, tetapi aku juga memberikan penyuluhan pertanian. Kupikir dengan melakukan hal tersebut maka secara tidak langsung aku mempromosikan barang-barang yang kujual.
Tetapi, tanpa kuduga, sore itu Pak Ujang, pegawai kantor desa datang berkunjung ke warungku. "Apa kabar, Him? Semakin sukses saja jualanmu."
"Alhamdulillah, Pak Ujang."
"Berarti cukup modalmu buat maju nyalon kades tahun depan?"
Aku terbatuk mendengar penuturan Pak Ujang.
"Wah, saya ga ngerti politik, Pak Ujang."
"Hampir separuh warga desa kita mengumpul di warungmu setiap hari. Pasti kamu punya peluang untuk dipilih, Him. Kita butuh generasi muda yang agresif, inovatif, dan kreatif, biar desa kita maju. Alhamdulillah, semenjak kamu pulang dari kota, mengajar bapak-bapak dan ibu-ibu di sini baca tulis, angka buta huruf di desa kita drastis menurun."
Aku langsung mengangkat tangan sambil tertawa. "Pak Ujang kayaknya obrolan kita ketinggian deh. Saya ga ngerti calon-mencalon begitu. Saya cuma begini ini, Pak."
"Tapikan kamu sarjana. Di desa kita ini, sedikit sekali sarjana. Apalagi sarjana macam kamu."
"Memang saya sarjana macam apa?"
"Idolanya ibu-ibu desa ini. Kata Mak Menah, setiap emak di kampung ini sedang menunggu Nak Rohim melamar anak gadis mereka."
Aku semakin keras tertawa.
"Kamu itu sudah memegang suara paling penting. Suara ibu-ibu. Sekali mereka berkata akan memilih kamu. Pasti mereka tidak akan berdusta. Bayangkan saja Nak Rohim. Jumlah Perempuan dan laki-laki di kampung kita ini seimbang. Sementara kamu sudah menggenggam erat suara perempuan."
Aku tak dapat menanggapi dengan kata-kata. Kudengar suara tawaku terus membahana.
"Ah, saya tidak mau maju jadi Kades, Pak Ujang. Saya mau maju jadi anggota dewan di kabupaten saja..." kelakarku di penghujung pembicaraan kami.
Tapi ternyata itu malapetaka. Pak Kades yang kini mendatangi warungku. "Wah, semakin sukses saja ya Nak Rohim. Apalagi dengar Bapak, Nak Rohim mau nyalon DPRD..."
Aku menepuk jidat.
"Ah, tidak benar itu Pak Kades. Saya cuma berkelakar dengan Pak Ujang. Saya ingin jadi petani yang profesional saja, Pak. Seperti Bob Sadino. Pengusaha di bidang pertanian dan peternakan."
"Bagus juga kalau bisa terjun ke politik."
Aku bersikap seperti biasa, tertawa.
"Tidak, Pak Kades. Biarlah saya fokus di bidang saya saja. Biar orang yang lebih kompeten di politik yang terjun ke dunia calon mencalon itu."
"Eh, salah kalau kamu pikir begitu. Yang mencalon jadi Kades, anggota dewan bahkan bupati itu harus orang yang memiliki visi dan misi. Bukan sekedar kompeten sebagai politisi."
"Maaf, Pak Kades. Saya sama sekali ga ngerti yang namanya politik. Saya tidak akan tertarik."
Pak Kades cukup lama di warungku. Hampir matahari tergelincir dia baru pamit.
Beberapa hari kemudian sebelum warga datang belajar, Pak Marto Pengurus ranting partai datang mengunjungiku. Lelaki berpenampilan nyentrik itu menepuk-nepuk bahuku dan menyalamiku dengan begitu erat.
"Nak Rohim. Kamu memang pantas dikaderkan. Kamu itu pemuda yang punya nilai untuk diperjuangkan. Kami siap memberikan kamu perahu kalau kamu bersedia."
Aku tersenyum.
"Bagaimana, kamu pasti tertarik?"
Aku menutupi kekikukanku dengan tertawa, "Sepertinya Pak Marto terlalu tinggi menilai saya. Saya ga ada apa-apanya, Pak. Bagaimana Bapak bisa begitu yakin menawarkan kepada saya. Lagi pula saya merasa tidak punya kemampuan di bidang politik."
Pak Marto gantian tertawa, "Itu gampang. Semua bisa dipelajari."
"Tapi, maaf Pak Marto, Saya belum kepikiran untuk ke sana."
"Kamu menolak?"
"Untuk saat ini, belum dulu Pak Marto."
"Lalu, buat apa kamu buka les gratis baca tulis?"
"Ya, karena Mak Menah dan kawan-kawan beliau yang meminta."
"Lalu?"
"Ya, itu. Karena permintaan mereka."
"Keuntungannya buat kamu?"
"Mereka membantu saya di warung."
"Waduh, Nak Rohim. Suara mereka itu sangat berharga. Kamu harus memanfaatkan peluang itu. Untuk kemajuan desa ini. Kalau ga pemuda macam kamu, siapa lagi yang akan memajukan desa kita?"
"Mungkin saya melalui jalur yang berbeda saja, Pak Marto. Insyaallah, melalui wirausaha, saya akan beusaha memajukan desa."
"Walah, kamu salah,..."
"Maaf kalau saya salah, tapi saya lebih baik mengeluti bidang yang saya pahami dulu sebelum saya memasuki bidang lain yang sama sekali tidak saya tahu. Saya sarjana pertanian, Pak Marto. Saya rasa ilmu saya lebih berguna apabila bersentuhan langsung dengan warga."
Pak Marto mengatup mulutnya sambil mengangguk-angguk.
"Baiklah, Nak Rohim. Kamu hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Kalau kamu tertarik, tentu kamu tahu dimana harus mendatangi saya?"
Aku mengangguk. Pak Marto pamitan ketika melihat rombongan Mak Menah dan ibu-ibu lain mulai mendatangi warungku. Pak Marto melangkah meninggalkan warung dengan jeep merahnya.
Mak Menah menepuk bahuku wajahnya tampak cemas, "Jadi nyalon, Him?"
Aku mengerutkan kening. "Nyukur rambut di salon?"
"Nggak, yang pasang baleho gede-gede itu. Pake dasi. terus ada tulisannya, Coblos..."
Aku menggeleng.
"Oh, syukurlah." Mak Menah mengelus dadanya.
"Boy sudah bisa membaca, Him. Cuma masih belum fasih menulis." cerita Mak Menah lagi.
"Oh, bagus kalau begitu."
"Siti juga sudah bisa membaca dan menulis, Him. Emak sendiri yang mengajarnya." celetuk Mak Timah bangga. Mak Menah hanya mencibir.
Aku tersenyum melihat tingkah mereka.
"Ya, sudah... Dibuka lagi bukunya. Halaman berapa lagi pelajaran kita hari ini?"
"Wah, bukunya ga pakai halaman, Him..." celetuk Ibu yang lain.
"Wah, ada kok." sahut ibu di belakangnya.
"Buku apa toh?" tanya Mak Sargawi.
Aku tersenyum melihat tingkah mereka.

0 comments:

Posting Komentar