Selamat Datang ...

Cerita Gopek menyuguhkan fiksi mini (flash fiction) karya Mardiana Kappara yang mengandung tidak lebih dari 500 kata pada tiap cerita.


Kamis, 08 Juni 2017

Wak Kocai Kaya Raya

Tidak ada orang yang percaya kalau Wak Kocai sekarang banyak harta. Semua orang di kampung curiga dan bergunjing termasuk Wak Karim dan Bido Pidut  kalau Wak Kocai pasti mencuri. 

“Mana ada orang miskin bisa kaya!” Seru Wak Karim.
“Iya, rumahnya kan dulu gubuk reot. Kurang lebih seperti kita!” Seru Bido Pidut juga.
Mendengar kasak-kusuk tetangga, Wak Kocai mengelus dada. Tapi ia tidak marah malah mendatangi Makwo Sema, si  tukang gosip di Kampungnya.

“Apa kabar, Makwo Sema?”
“Kabar baik, Wak Kocai! Dengar kabar awak sudah kaya raya sekarang!”
“Iya, Mak. Aku tidak menyangka kaya itu mudah nian, Mak!”
“Mudah bagaimana?”
“Tiga hari tiga malam aku berdoa memohon kepada Tuhan biar jadi orang kaya. Lalu satu karung emas sudah ada di depan pintu rumahku, Mak. Makanya aku kaya raya!”

Makwo Sema percaya. Dia pun bercerita pada Wak Karim dan Bido Pidut.
Tiga hari tiga malam Wak Karim mengkunci pintu rumahnya rapat-rapat. Begitu pula Bido Pidut. Mereka berdoa tanpa putus. Seperti yang diperkirakan dalam cerita Wak Kocai, 

Bukkk! Bukkk!
Doa khusyuk mereka terhenti seketika. Semacam benda besar menghantam pintu rumah. 
Bergegas mereka masing-masing menuju pintu keluar.
Sebuah karung tiba-tiba telah bersandar di muka pintu rumah.
“Waduh! Kaya kita, Bido Pidut!” Teriak Wak Karim senang.
“Cepat dibuka, Wak!” Teriak Bido Pidut lagi dari seberang rumah.
Dengan tidak sabar Wak Karim membuka karung tetapi isinya penuh dengan buah pinang utuh. Bukan emas.  Dan secarik kertas.

Alhamdulillah, 
Saya sudah kaya raya sekarang

Membaca tulisan itu, Wak Karim jadi terpaku. Melihat tetangganya, Bido Pidut pun ikut membuka karungnya dan menemukan tulisan yang sama. Keduanya kini sama-sama bergeming dengan kening berkerut.

Tiba-tiba Wak Kocai melintas dengan sepeda,
“Apa kabar Wak Karim, Bido Pidut,....Wah, tampaknya sudah terkabul doanya. Tidak susah bukan jadi orang kaya?”

Wak Karim dan Bido Pidut langsung kikuk. Wajah keduanya bersemu merah. tanpa banyak bicara mereka serentak masuk ke rumah masing-masing dan menutup pintu rapat-rapat.

Semenjak hari itu, mereka tidak lagi berani menghina Wak Kocai. Selain berdoa mereka pun mulai bersungguh-sungguh mengurus kebun pinangnya yang sudah lama terbengkalai.  

(Selesai)

Rabu, 07 Juni 2017

Dibuka Lowongan: Penjaga Suara

Pak Syargawi datang ke rumah. Dia bilang aku harus jadi petugas di TPS lagi. Ada pesanan dari Bapak dewan katanya.
"Aku sudah tidak mau lagi, Pak." Jawabku.
"Kenapa tidak mau? Kita tidak punya orang lagi buat jaga suara di situ."
"Suruh saja Aminah."
"Kenapa Aminah?"
Aku diam.
"Kau kok macam anak a-be-ge saja Martini. Masalah cinta ditolak, kau lalu jadi tidak profesional."
Aku mengerutkan kening, "Apa aku ada ngomong cinta barusan?"
"Gara-gara Bujang Pi'i memilih Aminah kan dibanding kau, makanya kau sudah tidak loyal lagi sama bendera kita."
Aku menggeleng cepat-cepat. "Bukan."
"Lalu karena apa?"
"Aku sudah tahu dosa sekarang."
Giliran Pak Syargawi yang mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Cuma jadi tukang jaga suara orang terus. Giliran orang sudah duduk di dewan. Jangankan mengucap terima kasih, melirik saja najis."
"Bujang Pi'i lagi maksudmu?"
"Ya...Siapa aja lah. Orang yang merasa pernah ditolongi."
"Kamu memang jago Martini. Makanya bendera kita selalu pengennya kamu yang di TPS."
"Aku udah ogah, Pak. Dosa!"
"Janganlah Martini. Demi bendera kita."
"Memang bapak mau gantiin saya di neraka?"
Pak Syargawi mesem-mesem diancam begitu.
"Saya sudah rajin ikut pengajian Pak Haji Muslim, Pak. Katanya, main-main dengan suara titipan orang dosa. Ga berkah hidup di dunia akhirat, Pak."
"Aku janji carikan kamu jodoh kalo kamu masih mau jaga TPS."
"Yeee,...amit-amit, Pak. Meski saya perawan tua, tapi saya ga banting harga. Apalagi mau buat dosa lagi demi dapat jodoh. Kalau kemaren saya mau karena saya tidak tahu. Kalau sekarang, saya udah insaf."
Pak Syargawi mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. cukup tebal. sebuah amplop coklat.
"Ambillah, mana tahu bisa buat pertimbangan." Pak Syargawi setelah itu langsung ngeloyor pergi.
***
Tiga hari kemudian Pak Syargawi datang lagi. Mukanya nampak kesal.
"Kenapa dikembalikan?" Pak Syargawi menyodorkan amplop tebal coklat yang tiga hari lalu aku kembalikan kepada Aminah.
"Sudah saya coba pake uang itu buat nyogok Rokib sama Atid, ga mau mereka, Pak. Terus aku coba juga ke malaikat pencabut nyawa, dia malah ngomong, Ga usah duit, ga level..."
Pak Syargawi tertawa, "Mungkin malaikat maut butuh modal gede, Tin. Makanya ga cukup segepok. Satu truk!"
"Ga Pak!" Kataku dengan ekspresi yakin. "Dia bilang, duit ga ada apa-apanya kalo buat nyogok beliau."
"Siapa sih malaikat mautmu, Tin. Sombong amat!"
"Ga sombong-sombong amatlah, Pak. Dia cuma punya permintaan satu aja."
"Asal masuk akal aja, Tin dan yang penting kamu mau lagi jaga TPS."
"Iya, Pak. asal penuhi dulu permintaannya."
"Apa?"
"Minta dikirimi Syargawi, katanya."
Wajah Pak Syargawi langsung berubah.
"Ah, kamu ini,... Maksudnya ngomong begitu apa?"
"Malaikat maut itu bilang, yang namanya Syargawi paling juga tidak bisa lagi melewati malam ketiga. Makanya aku kudu ngingetin. Kalau ga percaya, Pak Syargawi disuruh nemuin sendiri Malaikat mautnya.."
Pak Syargawi mencibirkan mulutnya, "Ya sudah. Kalau kamu memang tidak mau lagi tugas di TPS."
Aku tersenyum jumawa. Pak Syargawi menoleh setengah manyun ke arahku sebelum pergi dengan membawa amplop coklat yang diberinya beberapa hari lalu.

(Selesai)

Minggu, 15 Januari 2017

Kerasukan

Aku mau merepeti lagi suamiku yang baru pulang larut malam. Tetapi mulutku langsung dibungkamnya. Hidungnya langsung mengendus

"Bisa jadi kau tidak cocok dengan rumah ini," sahut suamiku pelan.
Aku mengerutkan kening.
"Hawa mulutmu lain. Lakumu juga. Pasti kau kerasukan."
Aku semakin mengerutkan kening.
"Kau merasa lain tidak?"
Aku menggeleng, "Biasa saja."
"Dulu kau tidak suka merepet. Semenjak kita pindah rumah, tiap menit mulutmu tidak bisa bicara baik."
Aku melongo, "betul kah?"
"Tuh kan. Benar. Kau kerasukan."
"Jangan menakut-nakuti."
"Tidak, aku tidak menakut-nakuti."
Aku berpikir.
"Sudah. Tidak usah bengong. Kalau kau sering bengong pikiranmu jadi kosong. Kau bakal benar-benar dirasuki."
Aku mengerjap-ngerjapkan mata.
"Kalau kau tidak percaya. Lihat saja perempuan di pantulan cermin di depanmu."
Aku langsung menatap cermin yang pas tergantung di hadapanku.
"Aku tidak melihat siapa-siapa."
"Sungguhkah?"
"Iya. Sungguh."
"Coba kau lihat baik-baik."
Aku memandangi cermin tanpa kedip, "Kau hanya bermaksud menakutiku kan?"
"Coba kau mendekat ke cermin itu, dan sebutkan HAAA.. di permukaannya."
Aku mengikuti.
"Kau cium aroma mulutnya kan?"
Aku mengerutkan kening menatap suamiku.
"Bau jengkol?"
Aku mengangguk.
"Lah, itulah hantunya!"
"Maksudmu?"
Suamiku tertawa.
Aku meraba mulutku yang baru bersendawa semur jengkol.
Aku tidak jadi merepet malam ini.

(Selesai)