“Ketika saya belajar dari yang buruk, saya menciptakan otentisitas sendiri.”
(G. Lini Hanafiah, YUK NULIS! Mengurai benang kusut ide menjadi tulisan inspiratif, 2009)
Selama ini, para penulis ternama menyarankan kepada penulis-penulis
pemula untuk belajar dari karya-karya sastra maestro agar dapat
menghasilkan karya yang baik. Tetapi, suatu pernyataan berbeda kemudian
saya temukan di sebuah e-book gratis YukNulis.com yang ditulis oleh G.
Lini Hanafiah, seorang pemerhati sastra, teater, jurnalistik, dan dunia
kepenulisan. G. Lini Hanafiah mengatakan, mulailah dari yang "buruk"
untuk menghasilkan karya yang otentik. Sebab belajar dari yang "baik"
hanya akan membuat Anda menjadi "pengikut".
Selamat Datang ...
Cerita Gopek menyuguhkan fiksi mini (flash fiction) karya Mardiana Kappara yang mengandung tidak lebih dari 500 kata pada tiap cerita.
Sabtu, 28 Januari 2012
Rabu, 12 Oktober 2011
Sedikit Bermakna Lebih
“Less is more”
By Ernest Hemingway
Pemilihan kata
yang tepat. Sederhana dalam menuturkan sebuah cerita penting untuk mampu
menghasilkan tulisan yang diminati sekaligus berkualitas. Pembaca secara jamak
lebih tertarik membaca karya-karya pop dibandingkan sastra berat, dengan alasan
bahasanya yang luwes dan sederhana.
Menurut
Hemingway, penyederhanaan itu penting. Baca selengkapnya di Shvoong.
Penulis Sukses = Produktif!
Ia sudah menulis kurang
lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel
lepas, kritik drama, skenario film, dan skenario sinetron. Setiap sehari mampu
mengarang cerita 30 halaman dan menulis empat artikel.”
(Fiksiku, Facebook,
22 Mei 2011)
Kamis, 06 Oktober 2011
Kehati-hatian Sebagai Penulis Pemula
Dunia maya telah memberikan kita keleluasaan untuk menulis apapun yang ingin kita tulis. Tidak ada editor atau tim penyeleksi yang menentukan apakah tulisan kita cukup baik untuk dipublikasikan. Mungkin tanggapan pembaca yang dapat memberikan jawaban dari kualitas tulisan kita tersebut.
Sebagai penulis pemula, tidak terkecuali penulis cerita fiksi. Menguasai sumber atau bahan yang ditulis adalah suatu keharusan. Karena bisa jadi kita akan terjebak pada kondisi kesalahan memberikan informasi kepada pembaca.
Baca selengkapnya di Shvoong.
Sebagai penulis pemula, tidak terkecuali penulis cerita fiksi. Menguasai sumber atau bahan yang ditulis adalah suatu keharusan. Karena bisa jadi kita akan terjebak pada kondisi kesalahan memberikan informasi kepada pembaca.
Baca selengkapnya di Shvoong.
Jumat, 30 September 2011
Mimpi
Mimpi memang memicu adrenalin. Tapi jangan sampai terperangkap semata di dunia khayal. Aku nyaris mengurung potensiku sendiri dalam dunia khayal. Untungnya aku segera menyadari bahwa berusaha untuk memperbaiki masa lalu dengan memimpikan hadirnya mesin waktu hanya akan menjadi kenyataan tanpa maksud. Maka aku hanya mewujudkan utophia semata dalam hidupku.
Mimpi itu harus jadi pemicu. Bukan pemadam.Mimpi itu harus menjadi api yang mengobarkan. Bukan seperti air yang memadamkan.
Mimpi itu harus jadi pemicu. Bukan pemadam.Mimpi itu harus menjadi api yang mengobarkan. Bukan seperti air yang memadamkan.
Rabu, 13 Juli 2011
Tips Menulis Flash Fiction
Ruang yang terbatas untuk bercerita bagi flash fiction menuntut penulis untuk
mampu tetap menciptakan alur cerita yang mengalir dan saling terkait dari awal
hingga akhir. Beberapa tips sederhana untuk dapat menulis flash fiction lebih
mudah, sebagai berikut:
Mengawali
Proses: Ibarat Jepretan Foto
Menulis Flash Fiction ibaratnya sebuah jepretan foto.
Kamu bisa melatih menulis flash fiction dari selembar foto. Ambillah sebuah
foto di pasar, lampu merah, di atas bis penuh sesak penumpang, penjual kaki
lima, atau antrian teller bank. Cobalah gambarkan dengan kata-kata sendiri yang
terjadi di balik selembar foto tersebut. Mudah-mudahan dengan bantuan tampilan
visual tersebut, kata-kata akan mengalir di atas kertas polos kamu.
Selengkapnya baca di Shvoong
Sabtu, 25 Juni 2011
Fasilitas Bukanlah Kendala Menulis
“Kendala menulis letaknya bukan di fasilitas, melainkan di dalam jiwa kita.”
(Salim A. Fillah [1], dalam buku karangan Satria Nova, Ternyata Menulis Itu Mudah dan Menghasilkan Uang, 2011, halaman 28)
Seringkali kita menunda kegiatan kita menulis dengan banyak sekali mengatasnamakan tudingan terhadap fasilitas untuk menulis, karena tidak punya komputer, buku literasi kurang, tidak ada modem, harus minjam laptop teman, lagi tidak punya waktu luang, kamar terlalu berisik, dan masih banyak rentetan alasan menyangkut kendala untuk menulis.
(Salim A. Fillah [1], dalam buku karangan Satria Nova, Ternyata Menulis Itu Mudah dan Menghasilkan Uang, 2011, halaman 28)
Seringkali kita menunda kegiatan kita menulis dengan banyak sekali mengatasnamakan tudingan terhadap fasilitas untuk menulis, karena tidak punya komputer, buku literasi kurang, tidak ada modem, harus minjam laptop teman, lagi tidak punya waktu luang, kamar terlalu berisik, dan masih banyak rentetan alasan menyangkut kendala untuk menulis.
Langganan:
Postingan (Atom)
