Selamat Datang ...

Cerita Gopek menyuguhkan fiksi mini (flash fiction) karya Mardiana Kappara yang mengandung tidak lebih dari 500 kata pada tiap cerita.


Rabu, 07 Juni 2017

Dibuka Lowongan: Penjaga Suara

Pak Syargawi datang ke rumah. Dia bilang aku harus jadi petugas di TPS lagi. Ada pesanan dari Bapak dewan katanya.
"Aku sudah tidak mau lagi, Pak." Jawabku.
"Kenapa tidak mau? Kita tidak punya orang lagi buat jaga suara di situ."
"Suruh saja Aminah."
"Kenapa Aminah?"
Aku diam.
"Kau kok macam anak a-be-ge saja Martini. Masalah cinta ditolak, kau lalu jadi tidak profesional."
Aku mengerutkan kening, "Apa aku ada ngomong cinta barusan?"
"Gara-gara Bujang Pi'i memilih Aminah kan dibanding kau, makanya kau sudah tidak loyal lagi sama bendera kita."
Aku menggeleng cepat-cepat. "Bukan."
"Lalu karena apa?"
"Aku sudah tahu dosa sekarang."
Giliran Pak Syargawi yang mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Cuma jadi tukang jaga suara orang terus. Giliran orang sudah duduk di dewan. Jangankan mengucap terima kasih, melirik saja najis."
"Bujang Pi'i lagi maksudmu?"
"Ya...Siapa aja lah. Orang yang merasa pernah ditolongi."
"Kamu memang jago Martini. Makanya bendera kita selalu pengennya kamu yang di TPS."
"Aku udah ogah, Pak. Dosa!"
"Janganlah Martini. Demi bendera kita."
"Memang bapak mau gantiin saya di neraka?"
Pak Syargawi mesem-mesem diancam begitu.
"Saya sudah rajin ikut pengajian Pak Haji Muslim, Pak. Katanya, main-main dengan suara titipan orang dosa. Ga berkah hidup di dunia akhirat, Pak."
"Aku janji carikan kamu jodoh kalo kamu masih mau jaga TPS."
"Yeee,...amit-amit, Pak. Meski saya perawan tua, tapi saya ga banting harga. Apalagi mau buat dosa lagi demi dapat jodoh. Kalau kemaren saya mau karena saya tidak tahu. Kalau sekarang, saya udah insaf."
Pak Syargawi mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. cukup tebal. sebuah amplop coklat.
"Ambillah, mana tahu bisa buat pertimbangan." Pak Syargawi setelah itu langsung ngeloyor pergi.
***
Tiga hari kemudian Pak Syargawi datang lagi. Mukanya nampak kesal.
"Kenapa dikembalikan?" Pak Syargawi menyodorkan amplop tebal coklat yang tiga hari lalu aku kembalikan kepada Aminah.
"Sudah saya coba pake uang itu buat nyogok Rokib sama Atid, ga mau mereka, Pak. Terus aku coba juga ke malaikat pencabut nyawa, dia malah ngomong, Ga usah duit, ga level..."
Pak Syargawi tertawa, "Mungkin malaikat maut butuh modal gede, Tin. Makanya ga cukup segepok. Satu truk!"
"Ga Pak!" Kataku dengan ekspresi yakin. "Dia bilang, duit ga ada apa-apanya kalo buat nyogok beliau."
"Siapa sih malaikat mautmu, Tin. Sombong amat!"
"Ga sombong-sombong amatlah, Pak. Dia cuma punya permintaan satu aja."
"Asal masuk akal aja, Tin dan yang penting kamu mau lagi jaga TPS."
"Iya, Pak. asal penuhi dulu permintaannya."
"Apa?"
"Minta dikirimi Syargawi, katanya."
Wajah Pak Syargawi langsung berubah.
"Ah, kamu ini,... Maksudnya ngomong begitu apa?"
"Malaikat maut itu bilang, yang namanya Syargawi paling juga tidak bisa lagi melewati malam ketiga. Makanya aku kudu ngingetin. Kalau ga percaya, Pak Syargawi disuruh nemuin sendiri Malaikat mautnya.."
Pak Syargawi mencibirkan mulutnya, "Ya sudah. Kalau kamu memang tidak mau lagi tugas di TPS."
Aku tersenyum jumawa. Pak Syargawi menoleh setengah manyun ke arahku sebelum pergi dengan membawa amplop coklat yang diberinya beberapa hari lalu.

(Selesai)

0 comments:

Posting Komentar